Senin, 27 Desember 2010

NEW FANFICT => Broken Vow


Naruto © Masashi Kishimoto
Broken Vow © azzahrararara
Starring: Sakura Haruno, Naruto Uzumaki, and the other character(s)
Rated: T+, for safety
Genre: Hurt/Comfort
Warning: OOC, AU, crack pairing, straight, alur lompat-lompat, lebay, aneh, norak, dan apa saja yang kalian anggap sesuai dengan fic ini.
Silahkan bersiap untuk membeli obat mata untuk jaga-jaga karena mungkin mata anda akan sakit setelah membaca fic aneh ini. Cerita ini hampir seluruhnya flashback, saya sengaja tidak mencantumkan pemberitahuan agar anda dapat berpikir selagi membaca fic ini *padahal males nulis keterangannya*
Don't like, don't read. I've warn you.

Broken Vow
Sakura menyeka air matanya lagi—entah sudah berapa kali ia menangis hari ini. Ino hanya dapat menggenggam tangannya, berusaha menguatkan sahabatnya yang tengah dilanda sakit hati yang teramat-sangat.
Ino menepuk-nepuk punggungnya, menggenggam tangan Sakura yang kurus dengan erat, berkata semua akan baik-baik saja—namun Sakura tahu, itu hanya ucapan agar ia tidak terus-terusan menangis.
Tubuh Sakura kini semakin kurus, wajahnya menjadi pucat, dan setiap hari ia akan terus duduk di ranjangnya sambil memakan ramen instant. Rambut pendek berwarna merah mudanya yang selalu terurai rapi, kini terlihat acak-acakan dan kusut. Sepasang bola mata emerald yang biasanya berbinar-binar, kini redup dan suram.
Sungguh, siapapun akan merasa kasihan—atau ngeri—ketika melihatnya dalam keadaan seperti itu.
Ia masih ingat jelas peristiwa itu, seberapa kerasnya ia mencoba melupakannya, sekelebat bayangan tersebut akan selalu menempel di otaknya—bagaikan noda spidol yang tak mau hilang.
"Sakura.. Semua akan baik-baik saja, tidak apa-apa.."
Sakura bahkan tidak menjawab perkataan Ino, ia hanya dapat mengusap air mata yang terus-terusan meluncur ke pipinya.
Semua peristiwa menyakitkan itu masih terasa perih.

"Sakura-chan, aku—err.. Aku akan lembur di kantor selama beberapa hari. Tenang saja, aku tidak apa-apa," ujar Naruto sambil mengecup kening Sakura.
"Kalau begitu, aku sendiri di rumah?" Tanya Sakura sambil memasang raut wajah kesal—yang terlihat dibuat-buat, sementara Naruto hanya mengusap rambut istrinya sambil pamit untuk berangkat kerja.
"Aku berangkat, Jaa!"
Sakura hanya melambaikan tangan sambil tersenyum. Ia kembali masuk ke dalam rumah, mengunci pintu, dan menyesap secangkir teh earl grey.
Sakura hanya seorang penulis lepas di salah satu surat kabar dan majalah, wanita itu juga dulu pernah mengirimkan beberapa kumpulan cerpennya untuk dibukukan.
Gaji Sakura tidak besar—apa yang diharapkan dari seorang penulis salah satu kolom surat kabar lepas? Dan tidak semua orang dapat menerbitkan buku dalam waktu cepat. Oleh karena itu, ia bergantung pada Naruto yang seorang pegawai kantoran.
Namun entah mengapa, akhir-akhir ini Naruto sering disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk—padahal pria itu sudah lumayan sering lembur di kantor, hingga tidak pulang beberapa hari.
Sakura selalu merasa kasihan saat melihat Naruto pulang dengan wajah super letih. Dalam hati, ia berkata jika ia juga bekerja, pastilah Naruto tidak perlu bekerja sampai seperti ini.

"Forehead, kita jalan yuk!"
Suara Ino di seberang membuat sudut bibir Sakura tertarik ke atas, mau tidak mau, ia mengiyakan ajakan sahabatnya ini—berhubung ia sudah lumayan lama tidak sekedar minum kopi di cafe atau memasuki beberapa butik hanya untuk melihat koleksi di sana. Jadi, mengapa tidak?
Sekitar tigapuluh menit kemudian, Ino sudah berada di depan pintu apartemen Sakura dengan berbalut turtleneck shirt berwarna violet, celana legging berwarna hitam, sebuah mantel berwarna putih susu, dan tas bermerek Prada.
Sementara Sakura, dengan rambut rapi berhiaskan bando merah, sehelai kemeja berwarna sama, jeans, sneakers dan shoulderbag di bahunya terlihat sederhana dibandingkan Ino.
Sejenak mereka berhenti di sebuah cafe kecil di ujung jalan, menyesap secangkir espresso dan mengisi perut mereka dengan dua potong donat. Setelah merasa kenyang, mereka mulai memasuki sebuah butik dengan sale yang membuat bola mata sapphire Ino berbinar-binar.
Saat mereka berdua sibuk mencoba beberapa potong pakaian, tanpa sengaja Ino melihat siluet pria yang mirip dengan Naruto tengah merangkul seorang wanita berambut coklat berpakaian khas china keluar dari toko peralatan olahraga.
Wait, wait.. Itu bukannya Naruto? Batin Ino curiga. Wanita berambut pirang itu berusaha kembali mencari sosok dua orang itu—namun hasilnya nihil. Mungkin mereka hanya halusinasi Ino, atau mereka sudah masuk ke toko lainnya?
"Ino-pig, ada apa?" Tanya Sakura ketika menyadari Ino terus-terusan melihat keluar. Ino segera memasang wajah sewajar mungkin, lalu menggeleng.
Ia tidak mau Sakura berburuk sangka terlebih dahulu sebelum Ino mengetahui apakah benar yang ia lihat Naruto atau bukan. Ia harus tahu lebih dulu.

"Moshi moshi,"
"Hei, Sakura."
Seketika, Sakura dapat mengenali suara itu di seberang, dan saat itu juga, Sakura langsung berteriak menyebut nama teman lamanya tersebut.
"Kiba! Ada apa?"
Kiba menggumam tidak jelas di seberang, seakan bingung untuk mengucap semua yang tadinya telah ia siapkan—dan kini tertahan di lidahnya.
"Kiba? Ada ap—"
"Naruto ada?"
Sakura menjawab dengan suara lembut, "Naruto lembur di kantor sejak dua hari yang lalu,"
Kiba tersentak—lidahnya terasa kelu untuk berbicara barang sepatah kata pun. Kiba merasa tadi sekitar jam delapan malam ia melihat Naruto dengan seorang wanita berambut coklat dengan terusan selutut khas china berwarna biru tengah berjalan dari arah sebuah restoran sambil berpegangan tangan. Padahal, dulu Naruto selalu mengajak Sakura makan di kedai ramen.
"Kiba? Kenapa kau diam?
"Ah, tidak. Tidak apa-apa. Err—aku ada urusan sedikit, nanti aku telepon lagi. Jaa."
"Jaa."
Kiba memutuskan sambungan dengan perasaan was-was. Ada yang tidak beres dengan semua ini.
Seingatnya saat Naruto mengejar Sakura dulu, pria berambut pirang terang ini selalu mengajak Sakura ke kedai ramen sederhana di ujung jalan dekat kampus mereka, bukan restoran mewah dengan dekorasi kelas atas yang membuat dompet tipis seketika.
Lagipula, Kiba sebelumnya tak pernah melihat wanita itu sebelumnya—sebagai orang yang sejak SD mengenyam pendidikan di tempat yang sama dengan Naruto, tentu Kiba tahu teman-teman lama Naruto yang notabene dikenalnya juga.
Sebenarnya apa yang terjadi?

"Tadaima," ujar Naruto ketika memasuki ruangan apartemennya. Perlahan ia berjalan ke arah ruang makan, berniat membuat secangkir kopi hangat.
Sekarang jam sebelas malam, namun Naruto baru saja pulang dari kantornya. Sakura yang sedari tadi tidak makan malam—hanya untuk makan bersama Naruto sekarang tengah mendengkur di meja makan.
Naruto tertegun ketika melihat kondisi meja makan. Dua mangkuk penuh sup miso, dua mangkuk nasi, sepiring tempura dan dua gelas ocha masih ada di sana. Isinya telah dingin—efek didiamkan selama sekitar empat jam.
Perasaan bersalah menyeruak di hatinya, tak seharusnya ia melakukan itu semua. Namun mau bagaimana lagi, ia sudah mencoba untuk menahan perasaan 'itu', membuangnya, melupakannya, semakin keras ia mencoba, semakin meledak perasaan 'itu'.
Pria itu mengambil mangkuk-mangkuk dan gelas tersebut, lalu menaruhnya di wastafel. Memilih untuk membuang semua makanan tersebut dan mencuci alat makan yang tak sempat digunakan tersebut.
Setelah mencuci bersih peralatan makan, Naruto hanya menatap Sakura, lalu perlahan mendekati wanita yang tengah berada di alam mimpi . Disentuhnya helaian merah muda yang jatuh menutupi wajah wanita itu. Dibisikkannya sebuah kalimat, ungkapan perasaan bersalahnya.
"Maaf, Sakura-chan."

Sakura perlahan membuka kelopak matanya, menyadari sinar matahari mulai menyeruak masuk dari celah-celah tirai berwarna putih yang menghiasi jendela apartemennya.
Ketika ia menyadari sekelilingnya, ia baru menyadari bahwa ia semalam tertidur di meja makan menunggu Naruto pulang. Sakura langsung menoleh ke segala arah, mencari pria yang telah menjadi suaminya selama setahun ini.
"Nar?"
Tidak ada jawaban.
"Narutoo?"
Tetap tidak ada jawaban.
Sakura menghela napas, ia pikir Naruto semalam memang tidak pulang. Tapi, siapa yang membereskan meja makan semalam? Seingatnya ia tertidur sekitar jam sepuluh—dan ia tidak membereskan meja.
Wanita itu mengangkat bahu, lagipula sekarang sudah jam delapan pagi. Ia tidur terlalu lama. Ketika ia hendak mengambil sebotol susu segar di lemari es, ia menemukan catatan dengan tulisan tangan khas Naruto.
Maaf aku semalam pulang terlambat, padahal kau sudah memasak untukku. Sekali lagi maaf, Sakura-chan. Aku berangkat lebih pagi hari ini, ada meeting mendadak. Maaf aku tidak membuat sarapan untukmu.
-Naruto Uzumaki-
Sudut bibir Sakura tertarik ke atas, membaca tulisan Naruto membuatnya merasa senang. Setidaknya Naruto masih menghargainya dengan menuliskan catatan kecil yang ditempel di pintu lemari es.
Sakura menuangkan sebotol susu tersebut ke dalam gelas, lalu mengambil selembar roti tawar, mengoleskan selai kacang di sana, dan memakannya di sofa sambil menonton televisi.

Ino baru saja keluar dari gedung redaksi majalah fashion tempatnya bekerja saat ia kembali melihat siluet Naruto yang tidak sendirian. Lagi-lagi, bersama wanita berambut coklat itu.
Kali ini Ino dapat melihat sosok wanita itu lebih jelas—kulitnya putih bersih, bola matanya coklat madu, senada dengan warna rambutnya yang dicepol dua. Wajahnya sangat ekspresif dan periang, ditambah tawa renyah yang mengalir di sela-sela pembicaraannya dengan Naruto.
Ino mengerutkan kening, ia merasa tidak pernah melihat wanita itu selama ia bersekolah di tempat yang sama dengan Naruto. Hanya saja, garis wajah wanita ini terasa familier di matanya.
Dengan cepat, wanita berumur duapuluh lima tahun tersebut mengeluarkan ponselnya dan menelepon Sakura, berniat membicarakan sesuatu yang dilihatnya tidak hanya sekali—sudah lumayan sering Ino melihat mereka duduk satu meja di cafe seraya menyesap secangkir kopi dan berbincang-bincang atau keluar masuk bioskop dan memasuki beberapa toko peralatan olahraga.
Tuut.. Tuut...
Trek.
"Moshi moshi?"
"Sakura? Err—kau ada waktu? Kita harus bicara."
Sakura mengerutkan keningnya di seberang, "Memangnya ada apa? Lewat telepon aja bisa, 'kan?"
Ino kembali memutar otaknya, mencari alasan yang cukup masuk akal agar ia dapat membicarakannya dengan Sakura—sekaligus berusaha agar Sakura yang melihatnya sendiri.
"Err—aku ingin sekalian pergi makan siang, bisa 'kan?"
"Bisa sih, kita bertemu di mana?"
"Tempat biasa," jawab Ino sekenanya. Ia yakin Sakura pasti tahu dengan yang dimaksud 'tempat biasa'. Cafe kecil yang biasa ia datangi bersama Sakura sejak mereka masih kuliah.
Sakura menggumam di seberang, "Mmm.. Tunggu aku sekitar tigapuluh menit lagi, ok?"
"Yeah, bye."
Ino memutuskan sambungan, lalu menghela napas.
Semoga saja tidak terjadi apa-apa...

"Jadi, apa yang kau mau bicarakan?" tanya Sakura ketika ia dan Ino tengah duduk berhadapan dengan gelas penuh iced tea dan sepiring pasta di meja mereka.
Ino menggigit bibirnya saat Sakura bertanya tentang hal itu. Ia bahkan tidak tahu harus memulai dari mana tanpa membuat Sakura sakit hati. Tapi ia tahu, hanya ini yang dapat dilakukannya, demi kebaikan Sakura.
"Err—Naruto apa kabar sekarang?"
Ino mengutuk dirinya dalam hati karena memulai pembicaraan dengan pertanyaan bodoh itu, sebab kini Sakura mengerutkan keningnya dan memasang wajah curiga yang membuat Ino keringat dingin.
"Ia baik-baik saja, memangnya kenapa?"
"Err—tidak, tidak apa-apa. Aku akhir-akhir ini hanya sering melihatnya berjalan-jalan di luar kantor," jawab Ino dengan nada sesantai mungkin. Sungguh, dalam hati ia sangat takut Sakura akan marah jika ia kelepasan bicara.
"Di luar kantor? Aku pikir ia ada banyak kerjaan sehingga akhir-akhir ini ia sering lembur."
"Lembur? Yang benar saja, Sakura! Aku sering melihatnya di restoran pada jam delapan malam!"
Uh-oh. Ino kelepasan bicara.
Sakura mengernyit bingung, ia mulai merasa ada yang tidak beres. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan Ino darinya. Dengan tatapan mata mengintimidasi, ia bertanya dengan nada menyudutkan.
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku, bukan?"
TO BE CONTINUED…
------------------------------------------------

Sabtu, 27 November 2010

hai :)

hai hai,salam kenal ya :) gua FATIMAH AZZAHRA ADHA MASITA .... panggil aja gua Zahra,gua lahir di rumah sakit Jakarta tgl 15 Maret tahunnya ? gapenting banget ya -_-" golongan darah gua ? penting gak sih ? emang mau donorin darah buat gua ? hahahaha bolehhh..... golda gua O :) olahraga ? gua suka banget bola , ada yg mau battle yoyo ma gua ? boleh ..... gua jago yoyo loh , musik atau lagu ? hm apa aja yg sesuai ama suasana hati gua,oiya gua itu orgnya emosian n gampang marah....trus gua punya sifat EGOIS pembawaan gua tenang kok,asalkan jangan buat mood gua jatoh aja everything's gonna be okey :D makanan ? gua suka makan apa aja yg bisa dimakan,asal jangan makanan basi aja kali yeh ? -_-"

oiya gua punya temen banyaaaaaakkkkkkk banget.......
temen pilihan gua itu
=> FIRDA :: she's my bestie friend :)
=> Nisa :: cocok banget kalo nyontek ama dia (?) hahahahahaha gak lah !
=> Rafli :: anaknya asik deh,care ama temen... cuma bocor ._.
=> Fadel :: ada buat gua kapanpun dan dimanapun dalam keadaan apapun,dia slalu siap buat gua curhat
=> Irfan :: agak jutek sih sama cwek,tapi sbenernya dia asik loh
=> Dika :: agak nyebelin sih,cuma dia asik di ajak main ama buat curhat juga nyambung

yak itulah nama temen temen gua,kebanyakan cowok emang....
udh dulu deh ya,babay :**

GALAU :'(

sekarang gua jadi tau,siapa dia sebenernya.... ternyata bener apa yg di bilangin sama orang lain tentang dia...... smua BULLSHIT !!!!!!!!!!!! kata lo mau nemenin gua slamanya,ngejagain gua slamanya... tapi APA BUKTINYA ? gak ada kan ? lo buang gua jauh jauh dari hidup lo,pernah gak sih lo mikir gimana sakitnya gua lo gituin ? NGGAK ! pernah gak sih lo mikir pengorbanan gua ke ortu gua buat lo ? NGGAK ! lo bener bener ngecewain gua ! lo bener bener bikin gua jatoh........ dulu lo bikin gua MELAYANG.... sekarang ? LO JATOHIN GUA dan bener bener sakit rasanya.....lo bener bener jahat ya sama gua ? SANGAT JAHAT... gua tuh sayang elo,tapi apa ? sebenernya lo ikhlas gak sih pacaran ama gua ? SAKIT BOY LO GITUIN.... puas kan lo udh bikin gua nagis semaleman gara gara lo maki maki gua.... ? trus pas gua kabur dari rumah buat apa lo nyari gua ? SIAPA YANG PEDULI AMA GUA ? ga ada -_-" trus ngapain lo ga rela kalo gua jadian ama orang lain ? MUNAFIK !

.......

Halah,gaya lo selangit... alesan mutusin gua aja sepele cuma pengen bebas,selama ini lo gak bebas gitu ? lo terkekang gitu ? ngapain lo masih mau pacaran ama gua ? kenapa ga dari dulu aja lo mutusin gua ? kenapa baru sekarang ? KENAPA WOY ? bilang aja lo bosen ama gua..... trus kenapa pas dulu gua mutusin elo,lo slalu nangis ?  bilang aja lo gengsi kan kalo misalnya yang mutusin gua ? JANGAN EGOIS WOY !!!!

jujur ya,gua masih suka nangis kalo inget yang dulu,inget kita pas manja"an,pas becanda bareng,inget kita pas pertama kenal sebagai ade sama kaka kelas .... oke ! sekarang terserah lo mau apa,gua ga peduli

Jumat, 19 November 2010

=(


Duduk sepi menyendiri …
Tanpa beban memberatkan jiwa…
Tersenyum , ya hanya tersenyum …
Dan mungkin selamanya akan tersenyum …
Membayangkan betapa indahnya masa masa dulu …
takkan mungkin terulang lagi …
MUSTAHIL !!!!
Ya . kata itu cocok untukku saat ini …
Indahnya canda tawa kita …
Apakah mungkin akan terulang ?
GAK MUNGKIN ….
Persahabatan kita , yang dulu indah ga bakalan bisa keulang lagi …
Kenapa ?
Karna sang pemisah sudah berkehendak …
Kita sekarang sudah terpisah …
Terpisah jauh ,
Bagai langit dan bumi
Alam kita sudah berbeda …
Sahabat ku tersayang ,
Tunggu aku disana …
Aku akan menyusul mu secepatnya J
Bila takdir sudah berbicara
Aku pasti akan menyusulmu
Dan masa masa itu pasti akan terulang lagi disana
Walaupun dengan waktu yang lama
Yap, aku diam disini …
Aku hanya bisa merenungi itu
Hanya bisa bermimpi…
Mimpi yang menyesakkan dada,
TEPAT SEKALI …
Mencurahkan semua ke dalam sebuah tulisan
Ingin rasanya, aku curahkan ini ke seseorang
Ingin rasanya aku menangis sepuasnya
TAPI GA BISA
Kenapa ?
Gatau kenapa , rasanya aku gakuat
Aku gatau apa yang harus aku lakuin
Yang bisa meredam semua emosi jiwa yang sudah membeku ini’
Yang sudah tak bisa tercurah lagi…
Hatiku mati
Hatiku beku
Hatiku rapuh
Tak bisa berkata apa apa lagi
Ya, hanya tulisan ini
Yang bisa menjadi perantara curahan hatiku
Ingin rasanya kutulis ini di sebuah blog
Agar semua orang tahu
Bahwa aku sedang bersedih…
Tapi ga bisa…
Kenapa ?
Aku gatau kenapa,
Rasanya aku gakuat melakukan apa apa saat ini
Emosiku sedang tak terkontrol
Mengertikah engkau ?
Perasaanku yang sakit ini ?
Yang LUKA ini ?
Apakah ada yang mengerti ?
NGGAK !!!!!!!!!
Nggak ada yang ngerti…
Semua sibuk sendiri -_-
Ga ada yang memperdulikan hatiku
Ga ada yang memikirkan perasaanku
Aku merindukan SAHABATKU disana
SANGAT MERINDUKANNYA
TAU GAK ?
Pasti NGGAK !!!!!!!!!!!
Karna memang merekan ga peduli
Semua JAHAT ? ga juga sih
Mungkin emang karna mereka gak tau ?
Ya mungkin ….

Ex : maaf gajelas J

BURUNG


aku adalah seekor burung
mungkin engkau talah lama mengenalku
kerna aku sering menggodamu pagi hari
tak peduli apakah engkau sedang bercumbu dengan mimpi

aku adalah seekor burung
mungkin engkau tahu tentang aku
yang tak pernah lelah berceloteh
yang tak pernah bosan berkencan dengan dahan-dahan dan dedaunan

aku adalah seekor burung
dulu,memang aku selalu begitu
terbang mengarak darah dan harapan
kepak sayap sarat angan-angan masa depan
sementara paruhku
tak pernah kubiarkan menyimpan keluh-kesah

tapi,O siapakah gerangan
yang diam-diam mengubur arti dulu
membungkam mulutku dan menyekat suaraku
hingga aku tak mampi lagi bersenandung
padahal dalam benakku
masih kusimpan rindu melagukan nyanyian

setelah aku kehilangan pepohonan
tempat bercanda bersama teman-teman
haruskah sekarang aku kehilangan kehidupan
ah,laras senjatamu itu
belum jera juga menguliti kebebasanku

entahlah telah berapa banyak
nyawa sesamaku yang terampas
di terjang tangan-tangan gagah
ditelan langkah-langkah pongah

sebenarnya,aku masih ingin akrab dengan matahari
mengadukan segala rupa persoalan
tapi,begitulah akhirnya
hari-hariku di sini kian tak utuh

biarlah,kukabarkan pada dunia
bahwa sekarang di sini
aku adalah seekor burung
yang menanti jatuh

Love setengah mati =)

Hatiku bahagia
Saat didekatmu
Jiwaku melayang
Bersama dirimu
Aku ingin dirimu
Mengapa kau jauh
Aku merindumu
Tak dapat ku hidup
Tanpa senyumanmu
Sayang ku mencintaimu
Houu.. woo. cintaku milikmu
Sayang untuk selamanya
Kasih indahnya hidupku
Houu.. woo. engkaulah cintaku
Mengapa kau jauh
Aku merindumu
Tak dapat ku hidup
Tanpa senyumanmu
Sayang ku mencintaimu
Houu.. woo.. cintaku milikmu
Sayang untuk selamanya
Kasih indahnya hidupku
Houu.. woo.. engkaulah cintaku
Kasih indahnya hidupku
Houu.. woo.. engkaulah cintaku
Tak dapat ku hidup
Tanpa senyumanmu
Sayang ku mencintaimu

ALAM


Bila angin
kehilangan desirnya
daun-daun kering
takkan mau
meluruhkan tubuhnya

Bila langit
kehilangan kebiruannya
burung-burung
takkan mau
mengepakkan sayapnya

Bila sungai
kehilangan kejernihannya
ikan-ikan
takkan mau
mengibaskan ekornya

Bila bulan
kehilangan sinarnya
malam-malam
akan gelap tanpa cahaya

Bila hutan
kehilangan pohon-pohon
hewan-hewan
kehilangan tempat tinggalnya

Bila bukit
kehilangan kehijauannya
sungai-sungai
akan kering selamanya

Bila petani
kehilangan sawah ladangnya
kanak-kanak
akan menitikkan air mata

Bila manusia
kehilang kemanusiaannya
alam semesta
akan tertimpa bencana
dan bertanya angin kering
"Perlukah memanusiakan manusia?".